Jumat, 10 Januari 2014

PENDEKATAN  EKSPOSITORI, HEURISTIK, KECERDASAN DAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
A.              A.      Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ekspositori, pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwam tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan di control dan ditentukan oleh guru / pengajar.
Hakekat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan Ilmu Pengetahuan kepada siswa. Siswa di pandang sebagai objek yang menerimaapa yang di berikan oleh guru. Pendekatan ini biasa disebut dengan istilah “Teacher Center”.
B.          B.                 Pendekatan Heuristik
Kata Heuristik berasal dari kata “Heurisken” yang artinya saya menemukan. Strategi belajar mengajar heuristic adalah merancang pembelajaran yang mengarah pada pengaktifan peserta didik dalam menemukan sendiri fakta, prinsip, konsep yang mereka butuhkan. Pendekatan ini sering disebut dengan istilah “Student Center”.
C.              Pendekatan Kecerdasan   
Pendekatan kecerdasan adalah pembelajaran yang disusun berdasarkan tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Strategi pembelajaran dan materi agar yang disiapkan oleh guru diarahkan pada tingkat Intelegensi yang ada pada masing – masing siswa, sehingga pembelajaran dapat mencapai ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan.
Tingkah laku yang intelegen (Cerdas) dapat di tunjukkan dengan ciri – ciri sebagai berikut :
·        Tingkah laku yang siap melakukan perubahan – perubahan yang perlu terhadap kondisi – kondisi baru
·         Tingkah laku bertujuan
·         Tingkah laku yang cepat
·         Tingkah laku yang terorgaisir
·         Tingkah laku yang dikendalikan motivasi yang kuat
·         Ingkah laku yang “Success Oriented”.
“Binet” mengelompokkan tingkah laku kecerdasan (Intelegence Quotient.IQ) :
·         140 – keatas          : Genius
·         120 – 139              : Cerdas Sekali / Superior
·         110 – 119              : Cerdas
·         90 – 109                : Normal / Rata – rata
·         80 – 89                  : Lambat Belajar
·         70 – 79                  : Bodoh
·         50 – 69                  : Debil
·         30 – 49                  : Embisil
·         - 29                        : Idiot
“Spearman”, mendefinisikan kecerdasan adalah “Integence Consists of General Ability that Working Conjuntion with Specials Abilities”, yaitu kapasitas umum meliputi kecepatan merespon setiap stimulus dari kemampuan memecahkan masalah dengan kapasitas khusus yang dikenal sebagai bakat (aptitude).
“Howard Garner”, psikolog yang mewariskan 8 kecerdasan sebagai bakat yang memecahkan masalah dan menciptakan produk :
1.      Kecerdasan Verbal
2.      Kecerdasan Logika
3.      Kecerdasan Visual
4.      Kecerdasan Kinestik
5.      Kecerdasan Ritmik
6.      Kecerdasan Interpersonal
7.      Kecerdasan Intrapersonal
8.      Kecerdasan Spiritual
D.  Pendekatan Kontekstual
Adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di milikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari.
            Menurut “Nurhadi” (2003) dilakukan dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yang efektif :
a)      Kontruktivisme (Constructivism)
Adalah suatu pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan di bangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba – tiba. Pada pandangan ini guru bertindak hanya sebagai fasilitator.
b)      Bertanya (Questioning)
Adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang, yang selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Kegiatan bertanya adalah :
1.      Menggali informasi akademik maupun administrative
2.      Mengecek pemahaman siswa
3.      Membangkitkan respon siswa
4.      Memfokuskan perhatian siswa terhadap penjelasan guru
5.      Menyegarkan kembali pengetahuan siswa
c)      Menemukan (Inquiry)
Adalah bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta – fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus Inquiry adalah :
1.      Observasi
2.      Bertanya
3.      Mengajukan dengan (hipotesis)
4.      Pengumpulan data (data collection)
5.      Penyimpulan (conclusion)
d)     Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar antar kelompok dan antara tahu ke yang belum tahu.
Dalam kelas menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok – kelompok belajar.
e)      Pemodelan (Modelling)
Dalam sebuah pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu member peluang yang besar bagi guru untuk member contoh, cara mengerjakan sesuatu dengan begitu guru member model tetntang bagaimana cara belajar.  


DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar