Jumat, 10 Januari 2014

PENDEKATAN  EKSPOSITORI, HEURISTIK, KECERDASAN DAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
A.              A.      Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ekspositori, pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwam tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan di control dan ditentukan oleh guru / pengajar.
Hakekat mengajar menurut pandangan ini adalah menyampaikan Ilmu Pengetahuan kepada siswa. Siswa di pandang sebagai objek yang menerimaapa yang di berikan oleh guru. Pendekatan ini biasa disebut dengan istilah “Teacher Center”.
B.          B.                 Pendekatan Heuristik
Kata Heuristik berasal dari kata “Heurisken” yang artinya saya menemukan. Strategi belajar mengajar heuristic adalah merancang pembelajaran yang mengarah pada pengaktifan peserta didik dalam menemukan sendiri fakta, prinsip, konsep yang mereka butuhkan. Pendekatan ini sering disebut dengan istilah “Student Center”.
C.              Pendekatan Kecerdasan   
Pendekatan kecerdasan adalah pembelajaran yang disusun berdasarkan tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Strategi pembelajaran dan materi agar yang disiapkan oleh guru diarahkan pada tingkat Intelegensi yang ada pada masing – masing siswa, sehingga pembelajaran dapat mencapai ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan.
Tingkah laku yang intelegen (Cerdas) dapat di tunjukkan dengan ciri – ciri sebagai berikut :
·        Tingkah laku yang siap melakukan perubahan – perubahan yang perlu terhadap kondisi – kondisi baru
·         Tingkah laku bertujuan
·         Tingkah laku yang cepat
·         Tingkah laku yang terorgaisir
·         Tingkah laku yang dikendalikan motivasi yang kuat
·         Ingkah laku yang “Success Oriented”.
“Binet” mengelompokkan tingkah laku kecerdasan (Intelegence Quotient.IQ) :
·         140 – keatas          : Genius
·         120 – 139              : Cerdas Sekali / Superior
·         110 – 119              : Cerdas
·         90 – 109                : Normal / Rata – rata
·         80 – 89                  : Lambat Belajar
·         70 – 79                  : Bodoh
·         50 – 69                  : Debil
·         30 – 49                  : Embisil
·         - 29                        : Idiot
“Spearman”, mendefinisikan kecerdasan adalah “Integence Consists of General Ability that Working Conjuntion with Specials Abilities”, yaitu kapasitas umum meliputi kecepatan merespon setiap stimulus dari kemampuan memecahkan masalah dengan kapasitas khusus yang dikenal sebagai bakat (aptitude).
“Howard Garner”, psikolog yang mewariskan 8 kecerdasan sebagai bakat yang memecahkan masalah dan menciptakan produk :
1.      Kecerdasan Verbal
2.      Kecerdasan Logika
3.      Kecerdasan Visual
4.      Kecerdasan Kinestik
5.      Kecerdasan Ritmik
6.      Kecerdasan Interpersonal
7.      Kecerdasan Intrapersonal
8.      Kecerdasan Spiritual
D.  Pendekatan Kontekstual
Adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di milikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari.
            Menurut “Nurhadi” (2003) dilakukan dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yang efektif :
a)      Kontruktivisme (Constructivism)
Adalah suatu pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan di bangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba – tiba. Pada pandangan ini guru bertindak hanya sebagai fasilitator.
b)      Bertanya (Questioning)
Adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang, yang selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Kegiatan bertanya adalah :
1.      Menggali informasi akademik maupun administrative
2.      Mengecek pemahaman siswa
3.      Membangkitkan respon siswa
4.      Memfokuskan perhatian siswa terhadap penjelasan guru
5.      Menyegarkan kembali pengetahuan siswa
c)      Menemukan (Inquiry)
Adalah bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta – fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus Inquiry adalah :
1.      Observasi
2.      Bertanya
3.      Mengajukan dengan (hipotesis)
4.      Pengumpulan data (data collection)
5.      Penyimpulan (conclusion)
d)     Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar antar kelompok dan antara tahu ke yang belum tahu.
Dalam kelas menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok – kelompok belajar.
e)      Pemodelan (Modelling)
Dalam sebuah pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu member peluang yang besar bagi guru untuk member contoh, cara mengerjakan sesuatu dengan begitu guru member model tetntang bagaimana cara belajar.  


DAFTAR PUSTAKA

Sabtu, 30 November 2013

HUBUNGAN MASYARAKAT DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1                               Latar Belakang

Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa pendidikan (sekolah) dan masyarakat adalah faktor pendidikan yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan di keluarganya akan segera berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lungkungan yang baru ini peserta didik diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya, yaitu masyarakat disinilah ia akan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan disekolah.
Terkadang seorang anak didik tidak bisa diterima oleh masyarakat karena pendidikan yang diberikan disekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton tanpa terlibat secara langsung dalam masyarakat. Tetapi ketika pendidikan yang diterima disekolah tepat sebagaimana yang butuhkan masyarakat, maka ia kan bisa menjadi pemain dan terlibat dalam masyarakat.
Disini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan (formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ketengah masyarakat. Karena tidak jarang antara sekolah dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian masyarakat menganggap bahwa pendidikan mahal dan hanya menghabiskan uang. Disinilah perlunya pendekatan dari pihak sekolah untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
1.2                                                         Rumusan Masalah
1.   Jelaskan pengertian Pendidikan !
2.   Jelaskan sejarah timbulnya pendidikan !
3.   Sebutkan perubahan paradigma pendidikan  di Indonesia !
4.   Jelaskan mengapa pendidikan dan masyarakat saling mempengaruhi !
1.3                                                                   TUJUAN
1.   Menjelaskan pengertian pendidikan.
2.   Menjelaskan sejarah timbulnya pendidikan.
3.   Menyebutkan perubahan paradigma pendidikan di Indonesia
4.   menjelaskan mengapa pendidikan mempengaruhi masyarakat.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1       PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah aktivitas atau usaha manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani maupun rohani untuk Memperoleh hasil dan prestasi.
Dengan kata lain bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradapan bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri ( nilai dan norma masyarakat ) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya karenanya bagaimanapun peradaban suatu masyarakat, didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.
Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan inspirasinya (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.
Arti pendidikan menurut pendapat Mc. Donald yang didalammnya sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad yang mengemukakan bahwa Pendididkan atau dipersempit dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan, dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku. Menuju ke kedewasaan anak didik. Perubahan itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan tidak mungkin terjadi, tanpa proses itu tujuan tak dapat dicapai. Dan proses yang dimaksud di sini adalah proses pendidikan. Sedangkan pengertian pendidikan dari sudut pandang kebudayaan Darji Darmodiharjo menjelaskan bahwa Pendidikan pada dasarnya merupakan sebagaimana dari kebudayaan yang mengarah kepada peradaban. Kebudayaan dalam arti luas adalah wujud perpaduan dari logika (pikiran), etika (kemauan), estetika (perasaan) dan praktika (karya) yang merupakan sistem nilai dan ide vital (gagasan) penting yang dihayati oleh sekelompok manusia (masyarakat) tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.
2.2       SEJARAH TIMBULNYA PENDIDIKAN
Meningkatnya tuntutan kehidupan dan bervariasi serta kompleksnya masalah yang akan dipecahkan adalah merupakan suatu titik tolak mengapa sekolah dibutuhkan dalam masyarakat. Dalam masyarakat serba sama, di mana dunia kehidupan belum menuntut: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan nilai serta sikap dan norma (values, attitude, norm) yang beraneka ragam mengakibatkan keluarga cukup membekali anaknya dengan pola dan cara yang tidak berbeda dengan apa yang telah didapat dan dialaminya.
Pada beberapa suku “primitive” telah dikemukakan dalam masyarakat statis seperti: suku Peoblo, Eskimo, Indian maupun pada suku asli Indonesia seoerti suku Dayak, Kubu dan suku asli di Irian Jaya, kehiodupan mereka yang belum banyak berkomunikasi dengan dunia luar, hanya membutuhkan kepandaian sederhana sekali untuk dapat hidup. Mereka bertani secara sederhana, berburu dengan tombak atau panah, maupun menangkap ikan ke laut. Kepandaian tersebut tidak perlu di terima melalui pendidikan khusus, tetapi melalui pemagangan dengan aktifitas langsung bersama orang tuanya.  Tetapi kemudian setelah tuntutan manusia kian meningkat, sebagai akibat terbukanya komunikasi dengan dunia luar, serta bertambah sempit dan kompleksnya lingkungan, manusia harus meninggalkan kestatisannya dan mencoba untuk berfikir dinamis. Alam lingkungan tidak dapat lagi untuk diolah sesuai dengan perubahan, maka mulailah di perlukan kemampuan dan keterampilan khusus. Pada waktu 4000 tahun sebelum masehi, pada masa peradaban tinggi di Mesir dan Tigris, sekolah seperti sekarang juga belum ada. Tetapi pada waktu itu ilmu pengetahuan telah sangat tinggi.
Yang belum ada sekolah untuk rakyat, tetapi pendidikan untuk kelas tertentu sudah lama dikembangkan. Pada saat itu orang telah banyak yang ahli dalam bidang tertentu, namun terbatas pada golongan yang telah ditentukan. Pada waktu perdagangan mulai maju, transaksi dagang membutuhkan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan dalam golongan tertentu menjadi lebih luas dan melebar. Keterampilan yang dikembangkan juga makin bertambah luas. Sekolah untuk golongan elite tertentu sudah ada dan dikeembangkan sebagai salah satu lingkungan pendidikan untuk mempersiapkan anggota masyarakat elite memasuki dan menghadapi kehidupan yang lebih mantap. Pada waktu ini yang diutamakan dalam kurikulum pelajaran, belum bervariasi seperti sekolah formal sekarang ini, tetapi masih merupakan kelas bahasa, kelas menulis, maupun kelas berhitung.
Baru kemudian sekitar 2100 tahun sebelum masehi, pada waktu pemerintahan Hammurabi, sekolah untuk rakyat diadakan. Hal itu berarti tuntutan akan lingkungan pendidikan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan yang makin meningkat.
2.3       PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN
Perubahan paradigma pada dunia pendidikan di Indonesia yang bernuansa reformatif ini menurut analisis Bank Dunia di latar belakangi oleh – oleh kondisi –kondisi :
a.    kepala sekolah tidak memiliki kewenangan yang cukup dalam mengelola keuangan sekolah yang dipimpinnya
b.   kemampuan manajemen kepala sekolah pada umumnya rendah terutama di sekolah negeri
c.    pola anggaran tidak memungkinkan bagi guru yang berprestasi baik bisa memperoleh insentif
d.   peran serta masyarakat sangat kecil dalam pengelolaan sekolah
Berdasarkan pengamatan dan anilisis yang dilakukan, Departemen Pendidikan Nasional menyimpulkan  sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata yaitu sebagai berikut :
1.   kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen
2.   penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi
3.   peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim
Sehubungan dengan permasalahan tersebut di atas, langkah yang diambil sebagai satu kebijakan adalah melakukan reorientas.penyelenggaraan  pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. 
Konsep ini mengandalkan pemberian otonomi yang luas kepada sekolah dalam menyelenggarkan pendidikan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pendidikan dikembalikan kepada kebutuhan masyarakat, orang tua dan pemerintah daerah.
2.4       PENDIDIKAN MEMPENGARUHI MASYARAKAT
Lingkungan masyarakat adalah merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yangh sangat berarti dlam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, ketrampilan maupun performa dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga, karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak didik atau individual secara utuh dan terpadu. Pendidikan dalam masyarakat akan berfungsi sebagai:
Ø Pelengkap (complement)
Ø Pengganti (substitute)
Ø Tambahan (supplement)
Dengan demikian bentuk dan jenis lingkungan menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan pribadi tiap individu dalam masyarakat, dengan mengingat ketiga fungsi tersebut. Pendidikan (sekolah) dan kehidupan masyarakat amat saling mempengaruhi dengan bermacam-macam cara:
a)   pendidikan dipengaruhi oleh keadaan masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonominya, faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan.
b)   Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari.
c)   Profesinya akan menempatkan dia pada tingkat sosial ekonomi tertentu dan mempengaruhi perkembangan seterusnya. 
Di negara-negara sedang berkembang, program-program pembangunan termasuk perogram pendidikan diarahkan kepada perbaikan mutu hidup. Pemerintah dan masyarakat percaya bahwa hanya dengan pendidikanlah negara akan mencapai kemajuan-kemajuan.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa perubahan yang terjadi dalam pernecanaan pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat atau sistem sosial. Hal ini dikarenakan pendidikan berkaitan dan saling pengaruh mempengaruhi bahkan saling bergantung. Karena itu seorang perencana pendidikan perlu mngetahui aspek-aspek sosial dan ekonomi yang mempunyai hubungan dan peran dalam pertumbuhan dan perubahan pendidikan.











BAB III
PENUTUP


3.1       KESIMPULAN
Dari uraian singkat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari.
Perlu diingat bahwa pendidikan bermaksud melayani kebutuhan masyarakat dalam arti menambah kemampuan masyarakat untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam semua aspek kehidupan. Karena itu materi yang disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana kelak mereka terjun.
3.2                                                                              SARAN
Penulis menyadari berbagai kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, berbagai saran dan kritik diharapkan untuk lebih menyempurnakan pembuatan laporan ini untuk pengembangan, maka penulis memberi saran yaitu agar mahasiswa dapat memahami idealnya hubungan masyarakat dengan pendidikan, agar terciptanya kesinambungan antara pendidikan dengan lingkungan masyarakat.








DAFTAR PUSTAKA

-          Dra Samsinar Siregar. Pengantar pendidikan Labuhan Batu, 2007.
-          Ihsan, Fuad. Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
-          Indar, Djumberansyah, Perencanaan Pendidikan: Strategi dan Implementasinya,



Selasa, 12 November 2013

The Webbed Model

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan, pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.
Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat penting untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, agar pembelajaran di kelas tidak monoton, menyenangkan serta bermakna bagi kehidupan peserta didik. Salah satunya dengan menggunakan berbagai macam model pembelajaran terpadu. Salah satunya adalah model pembelajaran model webbed. Berikut ini akan dibahas secara mendalam mengenai pembelajaran terpadu model webbed.
B. Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
2.    Apa saja jenis pembelajaran terpadu?
3.    Apa yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu model webbed?
4.    Bagaimana gambaran model webbed?
5.    Bagaimana karakteristik model webbed?
6.    Apa kelebihan model webbed dari model yang lain?
7.    Apa kekurangan model webbed dengan model yang lain?
8.    Bagaimana langkah-langkah membuat model webbed?
9.    Bagaimana penerapan model webbed dalam pembelajaran?
C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengetian dari pembelajaran terpadu;
2.    Untuk mengetahui jenis-jenis pembelajaran terpadu;
3.    Untuk mengetahui pembelajaran terpadu model webbed;
4.    Untuk mengetahui gambaran model webbed;
5.    Untuk mengetahui karakteristik model webbed;
6.    Untuk mengetahui kelebihan deri model webbed;
7.    Untuk mengetahui kekurangan dari model webbed;
8.    Untuk mengetahui langkah-langkah membuat model webbed;
9.    Untuk mengetahui penerapan model webbed dalam pembelajaran.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN PEMBELAJARAN TERPADU
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi anak. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.
Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intramata pelajaran maupun antarmata pelajaran.
B.  JENIS-JENIS PEMBELAJARAN TERPADU
1.    Menurut Drake dan Burns
Menurut Drake & Burns (2004:8) terdapat tiga pendekatan kurikulum terpadu yaitu multidisciplinary, interdisciplinary, dan transdisciplinary.
a.    Pendekatan multi matapelajaran
terutama fokus pada mata pelajaran. Penggunaan pendekatan ini dilakukan dengan mengorganisasi standar dari matapelajaran di sekitar sebuah tema. Multi matapelajaran terdiri atas pendekatan intradisiplinari, penggabungan/fusion, service learning (belajar melayani masyarakat), learning centers/parallel disciplines; Unit berbasis tema (theme-based units).
b.      Pendekatan Antar-matapelajaran (interdisciplinary)
Pendekatan antar-matapelajaran dilakukan dengan menggorganisasi kurikulum di sekitar materi bersama antar mata pelajaran. Pembelajaran dilakukan dengan mengidentifikasi potongan/irisan konsep dan ketrampilan antar matapelajaran. Masing-masing mata pelajaran masih teridentifikasi, namun agak samar dibanding pendekatan multi- matapelajaran.
c.       Pendekatan transdisciplinary
Pendekatan transdisiplinari dilakukan dengan membangun kurikulum di sekitar pertanyaan dan perhatian siswa. Siswa mengembangkan kecakapan hidup seperti yang diterapkan pada interdisiplinari dan ketrampilan mata pelajaran dalam konteks kehidupan nyata.
2.    Menurut Fogarty (1991)
Terdapat sepuluh model kurikulum terpadu (integrated curriculum) dimulai dari eksplorasi dengan mata pelajaran tunggal (within single disciplines) yaitu model fragmented, connected, dan nested; terpadu beberapa mata pelajaran (across several disciplines) yaitu model sequenced, shared, webbed, threated, dan integrated); dioperasikan diantara pebelajar sendiri yaitu model immersed; dan jejaring diantara pebelajar yaitu model networked. Pembelajaran terpadu menurut fogarty



a.       Model Fragmented
Model ini merupakan model penggalan, yaitu memandang kurikulum dalam penggalan-penggalan mata pelajaran terpisah. Tipikalnya kurikulum terbagi dalam pelajaran utama yaitu matematika, sains, bahasa, dan ilmu sosial. Pendekatan fragmented dilakukan untuk memadukan konsep-konsep dan kompetensi dalam satu mata pelajaran. Antar kompetensi dipelajari secara bersamaan. Kompetensi mendengar, membaca, dan menulis dalam pelajaran bahasa dilakukan secara bersamaan.
b.      Model Connected
Model connected (terhubung) memandang mata pelajaran dengan menggunakan kaca pembesar (opera glass, kaca pembesar yang dipakai oleh penonton opera yang hanya satu lensa), menyediakan secara detil, seluk beluk/rinci, dan interkoneksi dalam satu mata pelajaran.
c.       Model Nested
Model Nested atau model sarang memandang kurikulum dari tiga dimensional kaca baca, sasaran dimensi ganda dari pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak hanya pada mata pelajaran semata, namun ada beberapa pemahaman dan/atau ketrampilan yang terkuasai.
d.      Model Sequenced
Model sequenced melihat kurikulum menggunakan kaca-mata, lensa terbagi dalam dua bagian, namun terhubung oleh sebuah bingkai atau frame. Topik atau mata pelajaran terpisah, namun dapat dihubungkan dengan sebuah bingkai konsep yang menaungi topik atau mata pelajaran tersebut.
e.       Model Shared
Model shared melihat kurikulum menggunakan binoculars, menghubungkan dua mata pelajaran secara bersama untuk melihat sebuah topik. Keterhubungan antar dua mata pelajaran diorganisasi sehingga dapat dilakukan proses pembelajaran secara bersama-sama.
f.       Model Webbed
Model webbed atau jaring laba-laba melihat kurikulum menggunakan teleskop, menangkap konstelasi pembuka dari mata pelajaran, yang membentuk sebuah tema. Tema yang ditentukan menjadi langkah awal dalam melakukan pembelajaran. Indikator masing-masing kompetensi ilmu dan pengetahuan terjabarkan dari tema tersebut.
g.      Model Threaded
Model treaded melihat kurikulum dengan menggunakan kaca pembesar (magnifying glass). Ide besar diperbesar melalui semua isi dengan pendekatan kurikulum-meta (metacurricular). Model ini menggabungkan ketrampilan berpikir, ketrampilan sosial, ketrampilan belajar, mengelola grafik, teknologi, dan pendekatan kecerdasan ganda (multiple intellegences).
h.      Model Integrated
model integrated (terpadu) melihat kurikulum menggunakan kaleidoskop. Topik interdisiplin (antar mata pelajaran) ditata kembali diantara konsep yang sama/mirip dan munculnya pola dan rancangan. Melalui pendekatan antar matapelajaran, model integrated memadukan/mencampurkan empat mata pelajaran utama dengan menemukan persamaan ketrampilan, konsep, dan sikap pada keseluruhannya.
i.        Model Immersed
Model immersed melihat kurikulum menggunakan mikroskop. Melalui cara masing-masing keseluruhan konten disaring dengan menggunakan lensa ketertarikan dan keahlian yang dimiliki. Dengan menggunakan model ini, pebelajar sedikit atau sama sekali tidak ada intervensi atau bantuan dari pihak luar.
j.        Model Networked
Model networked atau jejaring melihat kurikulum menggunakan prisma. Menciptakan dimensi dan pengarahan ganda terhadap fokus, dengan menggunakan berbagai cara eksplorasi dan eksplanasi.
C. MODEL WEBBED
1. Pengertian Model Webbed
Seperti yang telah sedikit dibahas di atas. Salah satu model pembelajaran menurut Fogarty yaitu model webbed. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 secara tegas mengatakan pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Penerapan untuk kelas rendah (1, 2, dan 3) Sekolah Dasar dilakukan dengan pendekatan tematik webbed jaring labang-laba. Kelas atas (4, 5, dan 6) dengan pendekatan integrated atau terpadu beberapa mata pelajaran.
Menurut Trianto dalam bukunya Model Pembelajaran Terpadu dalam teori dan Praktek menyatakan bahwa pembelajaran Model webbed (Model Jaring Laba-laba) adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema bisa ditetapkan dengan negoisasi dengan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema tersebut disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memerhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktifitas belajar yang harus dilakukan siswa.  Jadi model webbed atau jaring laba- laba terimplementasi melalui pendekatan tematik sebagai pemandu bahan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan ini adalah model pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan tema tertentu yang cenderung dapat disampailan melalui beberapa bidang study lain. Dalam hubungan ini, tema dapat mengikat kegiatan pembelajaran, baik dalam mata pelajaran maupun lintas mata pelajaran.
2.    Gambaran Model Webbed
Model webbed ini menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang berkesan agar belajar siswa lebih bermakna. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Selain itu dengan penerapan pembelajaran terpadu model webbed yang menggunakan pendekatan tematik  disekolah dasar, akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu dengan satu kesatuan(holistic).
Description: url






3. Karakteristik Model Webbed
a. Berpusat pada siswa
Pendekatan ini lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu dengan memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakuakan aktivitas belajar.
b. Memberi pengalaman langsung
Dengan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata/konkrit sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
c. Pemisahan mata pelajaran yang tidak begitu jelas
Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini deperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari.



e. Bersifat Fleksibel
Guru dapat mengkaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain, bahkan mengkaitkan mata pelajaran dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan sekolah dimana meraka berada.
f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat siswa.
g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan.
4. Kelebihan Model Webbed
Kelebihan dari model jaring laba-laba (webbed), meliputi:
a.    Penyeleksian tema sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar;
b.    Lebih mudah dilakukan oleh guru yang bbelum berpengalaman;
c.    Memudahkan perencanaan kerja tim untuk mengembangkan tema kesemua bidang isi pelajaran;
d.   Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa;
e.    Memberikan kemudahan bagi anak didik dalam kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.      
b.    Keuntungan pendekatan jaring laba-laba untuk mengintegrasikan kurikulum adalah faktor motivasi sebagai hasil bentuk seleksi tema yang menarik perhatian paling besar, faktor motivasi siswa juga dapat berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat siswa.




5. Kekurangan Model Webbed
Selain kelebihan yang dimiliki, model webbed juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:
a.    Sulit dalam menyeleksi tema;
b.    Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal sehingga hal ini hanya berguna secara artifisial dalam perencanaan kurikulum, sehingga kurang bermanfaat bagi siswa;
c.    Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan daripada pengembangan konsep;
d.   Memerlukan keseimbangan antara kegiatan dan pengembangan materi pelajaran.
6. Langkah Membuat Rancangan Model Webbed
Dengan penerapan pembelajaran terpadu model webbed yang menggunakan pendekatan tematik disekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan (holistik).
Langkah untuk membuat rancangan pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba yaitu:
a.    Mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator setiap bidang pengembangan untuk masing-masing kelompok usia.
b.    Mengidentifikasi tema dan subtema dan memetakannya dalam jaring tema.
c.    Mengidentifikasi indikator pada setiap kompetensi bidang pengembangan melalui tema dan subtema.
d.   Menentukan kegiatan pada setiap bidang pengembangan dengan mengacu pada indikator yang akan dicapai dan subtema yang dipilih.
e.    Menyusun Rencana Kegiatan Mingguan.
f.     Menyusun Rencana Kegiatan Harian.
7. Penerapan Model Webbed
Pembelajaran terpadu menggunakan model webbed dimulai dengan menentukan tema. Sebagai contoh tema yang sudah ditentukan bersama adalah “Keluarga”. Dari tema ini dikembangkan dan dipadukan menjadi sub-sub tema yang ada pada beberapa mata pelajaran, misalnya :
a.    IPA
Standar Kompetensi : mengenal bebagai benda langit dan peristiwa alam (cuaca dan musim) serta pengaruhnya terhadap kegiatan manusia.
Siswa diajarkan tentang macam-macam benda langit dan peristiwa alam yang terjadi di sekitar. Dari peristiwa alam tersebut siswa diharapkan dapat menjaga kebersihan rumah.
b.    IPS
Standar Kompetensi : mendeskripsikan lingkugan rumah
Siswa diajarkan untuk mendeskripsikan lingkungan rumahnya masing-masing.
c.    Matematika
Standar Kompetensi : mengenal bangun datar
Siswa diajarkan tentang bentuk-bentuk bangun datar misalnya, misalnya pintu rumah berbentuk persegi panjang,  jendela berbentuk persegi,
d.   Pkn
Standar Kompetensi : menerapkan kewajiban anak di rumah dan di sekolah
Siswa diajarkan tentang mengikuti tata tertib di rumah. Bekerja sama dengan anggota keluarga yang lain dengan baik.
e.    Bahasa Indonesia
Standar Kompetensi : memahami teks pendek dengan membaca nyaring.
Siswa membaca teks tentang kehidupan keluarga yang harmonis.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran yang pelaksanaannya dilakukan secara terpadu, misalnya mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PKN dipadukan menjadi satu sehingga tercipta satu pokok pembelajaran atau tema. Maka dari itu, dengan adanya metode ini, siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa.
Selain itu metode ini juga memiliki kelemahan – kelemahan yang harus kita perhatikan, antara lain kecenderungan pemilihan tema yang terlalu dangkal membuat materi yang kita sampaikan menjadi kurang bermanfaat bagi siswa. Model Webbed ini akan berguna jika diterapkan pada kelas rendah karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu kesatuan (holistic).

B.     Saran
Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sehingga penulis hanya mengharapkan kritikan dan masukan yang membangun dari semua pihak, termasuk dari pembaca guna memperbaiki dan menyempurnakan tulisan dan pengetahuan penulis. Penulis yakin bahwa makalah ini masih sangat jauh dari standar sebuah karya ilmiah. Bahkan sebuah kebahagiaan besar jika ada pihak yang berusaha meneliti kembali paling tidak memeriksa referensi yang digunakan- makalah ini sehingga hasil penelitian tersebut dapat lebih valid.

DAFTAR PUSTAKA

Fogarty, Robin. 1991. The Mindful School How To Integrate The Curricula. Palatine: IRI/ Skylight Publishing, Inc.
Luvita, Ria. 2012. Model Pembelajaran Webbed pada http://duwaghewow.blogspot.com diunduh pada 20 Maret 2013.
Muda, Harli Trisdiono Widyaiswara. Pembelajaran Terpadu Pada Sekolah Dasar pada  http://lpmpjogja.org  diunduh pada 15 Maret 2013.
Nurmawati, Lilik. Penggunaan Model Webbed Dalam Pembelajaran Terpadu Untuk Meningkatkan Pemahaman Berbagai Kompetensi Pada Tema Keluarga Siswa Kelas II SDN Gondowangi III Kecamatan Wagir Kabupaten Malang pada http://library.um.ac.id diunduh pada 15 Maret 2013.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Surabaya: Prestasi Pustaka.

_______. http://www.ut.ac.id di unduh pada 20 Oktober 2013