Sabtu, 30 November 2013

HUBUNGAN MASYARAKAT DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1                               Latar Belakang

Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa pendidikan (sekolah) dan masyarakat adalah faktor pendidikan yang saling mempengaruhi. Keduanya mempunyai timbal balik yang tidak dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah mendapat pendidikan di keluarganya akan segera berlanjut untuk mencari ilmu di sekolah. Dalam lungkungan yang baru ini peserta didik diberi berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya, yaitu masyarakat disinilah ia akan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatnya ketika melakukan pendidikan disekolah.
Terkadang seorang anak didik tidak bisa diterima oleh masyarakat karena pendidikan yang diberikan disekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton tanpa terlibat secara langsung dalam masyarakat. Tetapi ketika pendidikan yang diterima disekolah tepat sebagaimana yang butuhkan masyarakat, maka ia kan bisa menjadi pemain dan terlibat dalam masyarakat.
Disini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang pendidikan (formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ketengah masyarakat. Karena tidak jarang antara sekolah dan masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian masyarakat menganggap bahwa pendidikan mahal dan hanya menghabiskan uang. Disinilah perlunya pendekatan dari pihak sekolah untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
1.2                                                         Rumusan Masalah
1.   Jelaskan pengertian Pendidikan !
2.   Jelaskan sejarah timbulnya pendidikan !
3.   Sebutkan perubahan paradigma pendidikan  di Indonesia !
4.   Jelaskan mengapa pendidikan dan masyarakat saling mempengaruhi !
1.3                                                                   TUJUAN
1.   Menjelaskan pengertian pendidikan.
2.   Menjelaskan sejarah timbulnya pendidikan.
3.   Menyebutkan perubahan paradigma pendidikan di Indonesia
4.   menjelaskan mengapa pendidikan mempengaruhi masyarakat.

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1       PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah aktivitas atau usaha manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani maupun rohani untuk Memperoleh hasil dan prestasi.
Dengan kata lain bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradapan bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri ( nilai dan norma masyarakat ) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya karenanya bagaimanapun peradaban suatu masyarakat, didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.
Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan inspirasinya (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.
Arti pendidikan menurut pendapat Mc. Donald yang didalammnya sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad yang mengemukakan bahwa Pendididkan atau dipersempit dalam pengertian pengajaran, adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan, dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku. Menuju ke kedewasaan anak didik. Perubahan itu menunjuk pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan tidak mungkin terjadi, tanpa proses itu tujuan tak dapat dicapai. Dan proses yang dimaksud di sini adalah proses pendidikan. Sedangkan pengertian pendidikan dari sudut pandang kebudayaan Darji Darmodiharjo menjelaskan bahwa Pendidikan pada dasarnya merupakan sebagaimana dari kebudayaan yang mengarah kepada peradaban. Kebudayaan dalam arti luas adalah wujud perpaduan dari logika (pikiran), etika (kemauan), estetika (perasaan) dan praktika (karya) yang merupakan sistem nilai dan ide vital (gagasan) penting yang dihayati oleh sekelompok manusia (masyarakat) tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.
2.2       SEJARAH TIMBULNYA PENDIDIKAN
Meningkatnya tuntutan kehidupan dan bervariasi serta kompleksnya masalah yang akan dipecahkan adalah merupakan suatu titik tolak mengapa sekolah dibutuhkan dalam masyarakat. Dalam masyarakat serba sama, di mana dunia kehidupan belum menuntut: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan nilai serta sikap dan norma (values, attitude, norm) yang beraneka ragam mengakibatkan keluarga cukup membekali anaknya dengan pola dan cara yang tidak berbeda dengan apa yang telah didapat dan dialaminya.
Pada beberapa suku “primitive” telah dikemukakan dalam masyarakat statis seperti: suku Peoblo, Eskimo, Indian maupun pada suku asli Indonesia seoerti suku Dayak, Kubu dan suku asli di Irian Jaya, kehiodupan mereka yang belum banyak berkomunikasi dengan dunia luar, hanya membutuhkan kepandaian sederhana sekali untuk dapat hidup. Mereka bertani secara sederhana, berburu dengan tombak atau panah, maupun menangkap ikan ke laut. Kepandaian tersebut tidak perlu di terima melalui pendidikan khusus, tetapi melalui pemagangan dengan aktifitas langsung bersama orang tuanya.  Tetapi kemudian setelah tuntutan manusia kian meningkat, sebagai akibat terbukanya komunikasi dengan dunia luar, serta bertambah sempit dan kompleksnya lingkungan, manusia harus meninggalkan kestatisannya dan mencoba untuk berfikir dinamis. Alam lingkungan tidak dapat lagi untuk diolah sesuai dengan perubahan, maka mulailah di perlukan kemampuan dan keterampilan khusus. Pada waktu 4000 tahun sebelum masehi, pada masa peradaban tinggi di Mesir dan Tigris, sekolah seperti sekarang juga belum ada. Tetapi pada waktu itu ilmu pengetahuan telah sangat tinggi.
Yang belum ada sekolah untuk rakyat, tetapi pendidikan untuk kelas tertentu sudah lama dikembangkan. Pada saat itu orang telah banyak yang ahli dalam bidang tertentu, namun terbatas pada golongan yang telah ditentukan. Pada waktu perdagangan mulai maju, transaksi dagang membutuhkan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan dalam golongan tertentu menjadi lebih luas dan melebar. Keterampilan yang dikembangkan juga makin bertambah luas. Sekolah untuk golongan elite tertentu sudah ada dan dikeembangkan sebagai salah satu lingkungan pendidikan untuk mempersiapkan anggota masyarakat elite memasuki dan menghadapi kehidupan yang lebih mantap. Pada waktu ini yang diutamakan dalam kurikulum pelajaran, belum bervariasi seperti sekolah formal sekarang ini, tetapi masih merupakan kelas bahasa, kelas menulis, maupun kelas berhitung.
Baru kemudian sekitar 2100 tahun sebelum masehi, pada waktu pemerintahan Hammurabi, sekolah untuk rakyat diadakan. Hal itu berarti tuntutan akan lingkungan pendidikan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan yang makin meningkat.
2.3       PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN
Perubahan paradigma pada dunia pendidikan di Indonesia yang bernuansa reformatif ini menurut analisis Bank Dunia di latar belakangi oleh – oleh kondisi –kondisi :
a.    kepala sekolah tidak memiliki kewenangan yang cukup dalam mengelola keuangan sekolah yang dipimpinnya
b.   kemampuan manajemen kepala sekolah pada umumnya rendah terutama di sekolah negeri
c.    pola anggaran tidak memungkinkan bagi guru yang berprestasi baik bisa memperoleh insentif
d.   peran serta masyarakat sangat kecil dalam pengelolaan sekolah
Berdasarkan pengamatan dan anilisis yang dilakukan, Departemen Pendidikan Nasional menyimpulkan  sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata yaitu sebagai berikut :
1.   kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen
2.   penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi
3.   peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim
Sehubungan dengan permasalahan tersebut di atas, langkah yang diambil sebagai satu kebijakan adalah melakukan reorientas.penyelenggaraan  pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. 
Konsep ini mengandalkan pemberian otonomi yang luas kepada sekolah dalam menyelenggarkan pendidikan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pendidikan dikembalikan kepada kebutuhan masyarakat, orang tua dan pemerintah daerah.
2.4       PENDIDIKAN MEMPENGARUHI MASYARAKAT
Lingkungan masyarakat adalah merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Lingkungan masyarakat akan memberikan sumbangan yangh sangat berarti dlam diri anak, apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, ketrampilan maupun performa dapat dikembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga, karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dalam membina pribadi anak didik atau individual secara utuh dan terpadu. Pendidikan dalam masyarakat akan berfungsi sebagai:
Ø Pelengkap (complement)
Ø Pengganti (substitute)
Ø Tambahan (supplement)
Dengan demikian bentuk dan jenis lingkungan menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan pribadi tiap individu dalam masyarakat, dengan mengingat ketiga fungsi tersebut. Pendidikan (sekolah) dan kehidupan masyarakat amat saling mempengaruhi dengan bermacam-macam cara:
a)   pendidikan dipengaruhi oleh keadaan masyarakat, antara lain keadaan sosial ekonominya, faktor kesenjangan sosial ekonomi akan mempengaruhi strategi dalam perencanaan pendidikan.
b)   Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari.
c)   Profesinya akan menempatkan dia pada tingkat sosial ekonomi tertentu dan mempengaruhi perkembangan seterusnya. 
Di negara-negara sedang berkembang, program-program pembangunan termasuk perogram pendidikan diarahkan kepada perbaikan mutu hidup. Pemerintah dan masyarakat percaya bahwa hanya dengan pendidikanlah negara akan mencapai kemajuan-kemajuan.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa perubahan yang terjadi dalam pernecanaan pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat atau sistem sosial. Hal ini dikarenakan pendidikan berkaitan dan saling pengaruh mempengaruhi bahkan saling bergantung. Karena itu seorang perencana pendidikan perlu mngetahui aspek-aspek sosial dan ekonomi yang mempunyai hubungan dan peran dalam pertumbuhan dan perubahan pendidikan.











BAB III
PENUTUP


3.1       KESIMPULAN
Dari uraian singkat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pendidikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pendidikan akal, budi pekerti dan kerohanian kepada anak didik atau generasi muda yang langsung atau tidak langsung menentukan jenis pekerjaannya di kemudian hari.
Perlu diingat bahwa pendidikan bermaksud melayani kebutuhan masyarakat dalam arti menambah kemampuan masyarakat untuk dapat bertahan dan mengembangkan diri dalam semua aspek kehidupan. Karena itu materi yang disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana kelak mereka terjun.
3.2                                                                              SARAN
Penulis menyadari berbagai kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, berbagai saran dan kritik diharapkan untuk lebih menyempurnakan pembuatan laporan ini untuk pengembangan, maka penulis memberi saran yaitu agar mahasiswa dapat memahami idealnya hubungan masyarakat dengan pendidikan, agar terciptanya kesinambungan antara pendidikan dengan lingkungan masyarakat.








DAFTAR PUSTAKA

-          Dra Samsinar Siregar. Pengantar pendidikan Labuhan Batu, 2007.
-          Ihsan, Fuad. Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
-          Indar, Djumberansyah, Perencanaan Pendidikan: Strategi dan Implementasinya,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar