PENDEKATAN EKSPOSITORI, HEURISTIK, KECERDASAN DAN
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
A. A. Pendekatan
Ekspositori
Pendekatan ekspositori, pendekatan ini bertolak dari
pandangan, bahwam tingkah laku kelas dan penyebaran pengetahuan di control dan
ditentukan oleh guru / pengajar.
Hakekat mengajar menurut pandangan ini adalah
menyampaikan Ilmu Pengetahuan kepada siswa. Siswa di pandang sebagai objek yang
menerimaapa yang di berikan oleh guru. Pendekatan ini biasa disebut dengan
istilah “Teacher Center”.
B. B. Pendekatan
Heuristik
Kata Heuristik berasal dari kata “Heurisken” yang artinya saya menemukan.
Strategi belajar mengajar heuristic adalah merancang pembelajaran yang mengarah
pada pengaktifan peserta didik dalam menemukan sendiri fakta, prinsip, konsep
yang mereka butuhkan. Pendekatan ini sering disebut dengan istilah “Student Center”.
C. Pendekatan
Kecerdasan
Pendekatan kecerdasan adalah pembelajaran yang
disusun berdasarkan tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik.
Strategi pembelajaran dan materi agar yang disiapkan oleh guru diarahkan pada
tingkat Intelegensi yang ada pada masing – masing siswa, sehingga pembelajaran
dapat mencapai ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan.
Tingkah laku yang intelegen (Cerdas) dapat di
tunjukkan dengan ciri – ciri sebagai berikut :
· Tingkah laku yang siap melakukan
perubahan – perubahan yang perlu terhadap kondisi – kondisi baru
·
Tingkah laku bertujuan
·
Tingkah laku yang cepat
·
Tingkah laku yang terorgaisir
·
Tingkah laku yang dikendalikan motivasi
yang kuat
·
Ingkah laku yang “Success Oriented”.
“Binet”
mengelompokkan tingkah laku kecerdasan (Intelegence Quotient.IQ) :
·
140 – keatas : Genius
·
120 – 139 : Cerdas Sekali / Superior
·
110 – 119 : Cerdas
·
90 – 109 :
Normal / Rata – rata
·
80 – 89 :
Lambat Belajar
·
70 – 79 :
Bodoh
·
50 – 69 :
Debil
·
30 – 49 :
Embisil
·
- 29 :
Idiot
“Spearman”, mendefinisikan kecerdasan adalah “Integence Consists of General Ability that
Working Conjuntion with Specials Abilities”, yaitu kapasitas umum meliputi
kecepatan merespon setiap stimulus dari kemampuan memecahkan masalah dengan
kapasitas khusus yang dikenal sebagai bakat (aptitude).
“Howard Garner”, psikolog yang mewariskan 8
kecerdasan sebagai bakat yang memecahkan masalah dan menciptakan produk :
1. Kecerdasan
Verbal
2. Kecerdasan
Logika
3. Kecerdasan
Visual
4. Kecerdasan
Kinestik
5. Kecerdasan
Ritmik
6. Kecerdasan
Interpersonal
7. Kecerdasan
Intrapersonal
8. Kecerdasan
Spiritual
D. Pendekatan Kontekstual
Adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di milikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari – hari.
Menurut “Nurhadi” (2003) dilakukan
dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yang efektif :
a) Kontruktivisme
(Constructivism)
Adalah
suatu pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan di bangun sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan
tidak dengan tiba – tiba. Pada pandangan ini guru bertindak hanya sebagai
fasilitator.
b) Bertanya
(Questioning)
Adalah
pengetahuan yang dimiliki seseorang, yang selalu bermula dari bertanya, karena
bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan
kontekstual. Kegiatan bertanya adalah :
1. Menggali
informasi akademik maupun administrative
2. Mengecek
pemahaman siswa
3. Membangkitkan
respon siswa
4. Memfokuskan
perhatian siswa terhadap penjelasan guru
5. Menyegarkan
kembali pengetahuan siswa
c) Menemukan
(Inquiry)
Adalah
bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan
dan keterampilan yang di peroleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat
fakta – fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus Inquiry adalah :
1. Observasi
2. Bertanya
3. Mengajukan
dengan (hipotesis)
4. Pengumpulan
data (data collection)
5. Penyimpulan
(conclusion)
d) Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Konsep
Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama
dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar
antar kelompok dan antara tahu ke yang belum tahu.
Dalam
kelas menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan
pembelajaran dalam kelompok – kelompok belajar.
e) Pemodelan
(Modelling)
Dalam
sebuah pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model
itu member peluang yang besar bagi guru untuk member contoh, cara mengerjakan
sesuatu dengan begitu guru member model tetntang bagaimana cara belajar.
DAFTAR
PUSTAKA